Mon, 14 Oct 2019   Tentang Media Center

Artikel Terkini

Aruh Baharin Ritual Religi Dayak Halong

Oleh Admin, 19/06/2019

Paringin, InfoPublik - Sebagai daerah menjemuk, Kabupaten Balangan, di Kalimantan Selatan mempunyai keberagaman budaya berupa adat istiadat, kebiasaan serta kearifan lokal lainnya.

Salah satu tradisi yang ada di Bumi Sanggam ini ialah ritual aruh adat yang ada di Komunitas Masyarakat Dayak Meratus. Aruh adat ini ternyata beragam jenisnya, salah satunya ialah Aruh Adat Baharin yang digelar komunitas masyarakat dayak Meratus Desa Kapul, Kecamatan Halong.

Sekretaris Dewan Adat Dayak (DAD) Balangan Eter Nabiring menyampaikan, Aruh Baharin adalah upacara adat sebagai wujud syukur dan merayakan hasil panen yang berhasil bagi masyarakat adat dayak Halong, serta ucapan terima kasih atas terkabulnya hajat-hajat yang pernah disampaikan.

Upacara aruh Baharin sendiri, kata Eter, diawali dengan Bagamal yaitu pemanggilan dewa-dewa. Para dewa ini berada di berbagai alam. Di antara alam tempat para Dewa tersebut tinggal di antaranya, alam Kadedupa, Kademayan, Kadumarin, Ujungpandang, Kejanakan (yang tampak). Kemudian, Alam Semar, Anak Nabi Sulaiman, Laut Berpermata dan Pewenangan Nabi Sulaiman.

“Dalam bagamal juga terdapat segmen sumbayang yaitu memuja tanaman dan hewan tertentu, seperti kayu petiti/puai (sejenis umbi-umbian) dan kepiting atau ketam. Selain itu, dalam bagamal juga terdapat pujaan terhadap hyang putir berupa mantera berisi cerita proses terjadinya padi hingga turun ke bumi dan berladang hingga panen,’’ beber salah satu tokoh Dayak Balangan ini.

Upacara Aruh Baharin, lanjut dia, biasanya digelar selama 7 hari 7 malam lamanya dan akan melewati 3 tahapan. Tahap pertama adalah persiapan. Di tahap ini kaum laki-laki membuat dan menghias pejamuan, sedangkan para perempuan memasak lauk pauk.

Di tahap kedua, beber dia, pemuka adat melakukan ritual pemanggilan arwah para leluhur di malam ke-3 hingga ke-4, tujuannya untuk para leluhur ikut hadir dan merestui Upacara Aruh Baharin ini, dan tahap ketiga yang merupakan puncak dari Upacara Aruh Baharin, ditandai dengan penyembelihan hewan korban seperti ekor kerbau.

“Aruh Baharini ini merupakan salah satu keberagaman yang harus terus dijaga dan dilestarikan, karena keberadaanya merupakan kekeyaan daerah yang tak ternilai harganya,’’ ungkap dia.

Selain itu, menurut dia, Aruh Adat ini bukan hanya sekadar rangkaian adat yang dijalankan oleh masyarakat adat berupa kesyukuran atas hasil panen musim, namun juga salah satu sarana silaturahmi bagi seluruh lapisan masyarakat untuk terus memupuk kekompakan dan kebersamaan yang telah terjaga dengan baik selama ini. “Kita tentu berharap rangkaian tradisi aruh adat ini bisa terus lestari sebagai salah satu identitas dan kekayaan budaya daerah,’’ pungkas dia. (MC Balangan/sugi)

Komentar