Mon, 14 Oct 2019   Tentang Media Center

Artikel Terkini

Rumah Kuna, Potret Kejayaan Ekonomi Balangan Tempo Dulu

Oleh Admin, 19/06/2019

Paringin, InfoPublik - Sebagai salah satu daerah penghasil karet di Kalimantan Selatan atau bahkan di Kalimantan, Kabupaten Balangan pernah merasakan manisnya perekonomian dari sektor perkebunan.

Bahkan, saat zaman penjajahan Kolonial beberapa puluh dekade lalu, masa emas perkebunan karet juga terasa di Bumi Sanggam begitu kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten induk HSU ini disebut.

Di masa itu, Balangan diyakini merupakan salah satu tempat persinggahan tentara kolonial Belanda saat menjalankan roda pemerintahannya, bukti sejarah yang menandakan bahwa Belanda pernah berada di Kabupaten yang berdiri tahun 2003 silam ini, semakin terasa saat mengunjungi beberapa situs sejarah peninggalan zaman kolonial yang ada di beberapa kecamatan.

Berdasarkan data hasil penelitian Balai Pelestarian Nilai Budaya (BNPB) Pontianak, setidaknya ada 24 situs sejarah peninggalan kolonial Belanda yang tersebar di delapan kecamatan di Balangan.

Situs sejarah yang sangat terasa nuansa kolonialnya yaitu dua buah rumah dengan arsitektur bergaya Eropa yang berlokasi di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Lampihong, dan satu buah rumah lainnya di Desa Muara Ninian, Kecamatan Juai.

Salah satu rumah dengan arsiktektur bergaya Eropa yang berlokasi di Desa Ninian yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1926, lebih dikenal dengan sebutan Rumah Batu atau Rumah Belanda.

Selain mempunyai arsitek rumah menyerupai hurup U khas rumah Belanda, bahan bangunan pun menggunakan semen (beton) untuk bagian pondasi bawah. Bahan lantai seluruh bagian rumah terbuat dari teraso warna gelap, sedangkan bangunannya menggunakan bahan kayu.

Pemerhati sejarah, Dharma Setiawan mengungkapkan, keberadaan rumah dengan arsitektur bergaya Eropa peninggalan zaman kolonial, tidak bisa dipungkiri menandakan bahwa tentara kolonial pernah membangun peradabannya di Bumi Sanggam.

Menurut alumni FKIP Pendidikan Sejarah ULM ini, wilayah Balangan di masa kolonial merupakan salah satu wilayah penghasil karet terbesar di Kalsel. "Keberadaan Belanda di wilayah Balangan, selain dalam upaya pengamanan dan menjalankan pemerintahan di Kewedanan Balangan, juga lebih kepada penguasaan produksi karet yang ada," ujar Dharma, Selasa (18/6/2019).

Dalam menghasilkan pundi-pundi uang di daerah jajahannya, menurut Dharma, Belanda ternyata tidak melulu menggunakan kekerasan. Ada bermacam strategi yang diterapkan, salah satunya yaitu dengan menggunakan sistem kupon. Sistem kupon adalah sistem pemberian hadiah kepada pemilik kebun karet yang selalu memelihara kebun karetnya dengan baik, sehingga menghasilkan kualitas karet yang baik.

Strategi yang dijalankan Belanda guna mengambil keuntungan sebagai pihak pemegang monopoli perdagangan karet dalam jumlah besar ini, lanjut dia, ternyata cukup efektif untuk memancing pemilik kebun karet untuk memelihara kebunnya, sehingga meningkatkan pendapatan masing-masing para pemilik kebun.

“Selain itu, keberadaan rumah bergaya kolonial ini juga menandakan kejayaan ekonomi komoditas karet masa lalu,’’ beber dia. (MC Balangan/sugi)

Komentar